Inilah 5 Sehat 8 Sempurna yang Belum Diketahui

Ada 5 Sehat 8 Sempurna untuk Mengganti 4 Sehat 5 SempurnaApakah Anda salah satu orang yang masih menerapkan 4 sehat 5 sempurna? Bila iya, sebaiknya segera berubah. Sebab, pemenuhan gizi dengan model itu dianggap sudah tidak lagi relevan oleh para pakar gizi. Anda disarankan beralih ke 5 sehat 8 sempurna.

Adapun model pemenuhan gizi ini ditujukan agar masyarakat Indonesia memenuhi gizi seimbang setiap kali makan.

Guru Besar Gizi Masyarakat Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof Hardinsyah mengatakan 5 sehat 8 sempurna ini sudah memenuhi aspek untuk kebutuhan gizi, sehingga tidak terjadi kelebihan atau kekurangan gizi.

Lantas apa saja yang termasuk 5 sehat 8 sempurna? “Yang dimaksud 5 sehat itu pangan pokok (karbohidrat), lauk pauk, sayur buah, minuman dan membatasi GGL (gula, garam dan lemak). Kalau 8 sempurna itu aktivitas fisik, jaga kebersihan dan cek gizi serta kesehatan,” kata Hardinsyah saat acara Journalist Goes To Campus yang digelar Danone Indonesia di Bogor, Jawa Barat, Selasa (22/8/2017).

Pada dasarnya, konsep pemenuhan gizi ini mengacu pada pembatasan porsi makan sesuai dengan usia yang sudah diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 41 Tahun 2014 Tentang Pedoman Gizi Seimbang. Sementara pembatasan GGL dianggap perlu karena beresiko pada penyakit tidak menular (PTM) seperti diabetes, kolesterol hingga jantung.

Sementara untuk olahraga penting karena semakin banyak yang memiliki badan gemuk, mudah pusing, lemah dan letih karena kurang sehat. “Itu semua karena kurang olahraga. Dulu enggak diperlukan olahraga karena banyak kerja fisik,” kata dia.

Sementara itu, pakar gizi masyarakat dari IPB, Dr Rimbawan mengakui bahwa tidak mudah menyosialisasikan soal gizi seimbang ini ke masyarakat, karena panduannya semakin rinci dan detail, misalnya seperti gizi sesuai kelompok umur. Selain itu, juga tantang penyederhanaan bahasa karena tak semua paham soal terminologi gizi.

Oleh karena itu, 5 sehat 8 sempurna merupakan bagian dari pemudahan konsep soal gizi seimbang. Diharapkan, konsep ini bisa dipahami agar masyarakat terhindar dari dampak jangka panjang.

“Kalau kelebihan gizi maka beresiko penyakit degeneratif, sementara kalau kurang gizi juga beresiko rentan penyakit. Misalnya kalau kurang gizi saat anak-anak, saat dewasa juga beresiko penyakit degeneratif,” kata Rimbawan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *